Wisata  

‎3.100 Pelari Siap Jelajahi Ikon Sejarah Tanjungpinang dalam BTN Kepri Moon Run 2026

‎3.100 Pelari Siap Jelajahi Ikon Sejarah Tanjungpinang dalam BTN Kepri Moon Run 2026.
‎3.100 Pelari Siap Jelajahi Ikon Sejarah Tanjungpinang dalam BTN Kepri Moon Run 2026. Foto: Gotvnews/Ald.

GOTVNEWS, Tanjungpinang – Sebanyak 3.100 pelari dari berbagai daerah dipastikan bakal memadati Kota Tanjungpinang dalam perhelatan BTN Kepri Moon Run 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 13 hingga 14 November 2026 mendatang.
‎
‎Event lari malam berskala regional tersebut mengajak para peserta menjajal rute eksotik sembari menjelajahi ragam ikon sejarah dan budaya lokal.
‎
‎Kepala Dinas Pariwisata Kepri, Hasan, menyampaikan bahwa rangkaian acara akan diawali dengan bazar UMKM serta pertunjukan seni budaya seperti joget dangkong, atraksi kompang, hingga musik tradisional talempong.
‎
‎”Walaupun penyelenggaraan tahun ini menerapkan sistem pendaftaran berbayar, antusiasme pelari dari berbagai daerah sangat tinggi. Bahkan hingga saat ini masih banyak peserta yang mendaftar,” ucap Hasan, Jumat (6/11/2026).
‎
‎Hasan menerangkan, para peserta akan memulai start dari depan Gedung Daerah Tanjungpinang lalu menyusuri sejumlah destinasi bersejarah, antara lain Gedung Gonggong, kawasan Tepi Laut Gurindam 12, Tugu Sirih, Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah, Vihara Bahtra Sasana (1857) di Kota Lama, Gereja Ayam, Jalan Merdeka, serta Jalan Teuku Umar, sebelum kembali ke garis finish di Gedung Daerah.
‎
‎”Ini menjadi ajang promosi wisata di Tanjungpinang, sebab pelari akan melewati sejumlah destinasi wisata,” jelasnya.
‎
‎Sekda Kepri, Misni, menegaskan bahwa BTN Kepri Moon Run 2026 disiapkan sebagai pesta olahraga dan budaya bagi masyarakat Kepri.
‎
‎”Sejauh ini telah merampungkan koordinasi teknis bersama Race Director, Dinas Perhubungan, Satlantas Polresta Tanjungpinang, hingga OJK demi menjamin kelancaran acara,” tegasnya.
‎
‎Sementara itu, Race Director, Edy Rivana, menyoroti tingginya partisipasi peserta meski terjadi perubahan sistem pendaftaran dari gratis menjadi berbayar pada penyelenggaraan tahun kedua ini.
‎
‎Menurutnya, hal tersebut menjadi indikator positif bagi pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus daya saing pariwisata berbasis warisan budaya di Kepulauan Riau.
‎
‎”Fenomena ini sekaligus merefleksikan pertumbuhan ekonomi yang kuat di Tanjungpinang,” pungkasnya. (Ald)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *