‎Imbas Blackout, Warga Tanjungpinang Mengungsi ke Hotel Hingga Unit Kamar Penuh

‎Imbas Blackout, Warga Tanjungpinang Mengungsi ke Hotel Hingga Unit Kamar Penuh.
‎Imbas Blackout, Warga Tanjungpinang Mengungsi ke Hotel Hingga Unit Kamar Penuh. Foto: Gotvnews/Ald.

‎GOTVNEWS, Tanjungpinang — Dampak krisis pemadaman listrik secara menyeluruh (blackout) yang melanda Kota Batam dan Pulau Bintan sejak Senin (12/10/2026) terus meluas ke berbagai sektor publik.
‎
‎Tak hanya melumpuhkan aktivitas harian, pemadaman yang memakan waktu berhari-hari tersebut memicu lonjakan tingkat hunian hotel di Kota Tanjungpinang akibat banyaknya warga yang memilih mengungsi dari rumah.
‎
‎Pantauan di lapangan pada Rabu (14/10/2026) menunjukkan sejumlah hotel di Tanjungpinang, seperti Hotel Pelangi dan Hotel Halim, dipadati pengunjung hingga seluruh ketersediaan kamar dilaporkan habis terisi atau fully booked.
‎
‎Di Hotel Pelangi, peningkatan jumlah tamu mulai membludak sejak Senin sore.
‎
‎Salah seorang petugas resepsionis Hotel Pelangi mengungkapkan bahwa mayoritas warga yang datang menginap membawa anggota keluarga serta anak-anak guna mencari tempat yang nyaman berfasilitas pendingin udara.
‎
‎”Banyak masyarakat menginap karena kondisi rumah sangat panas akibat pemadaman listrik, kasihan anak-anak tidak bisa tidur kepanasan,” ungkapnya, Rabu (14/10/2026).
‎
‎Kondisi serupa dialami Hotel Halim, dimana lonjakan pemesanan kamar bahkan sudah terjadi sejak Senin pagi saat arus listrik pertama kali terputus.
‎
‎Petugas Hotel Halim, Desy, mengatakan bahwa selain karena kepanasan akibat listrik mari di rumah, sebagian masyarakat memilih menyewa kamar hotel untuk menunjang kebutuhan kerja dengan mendapatkan akses internet darurat.
‎
‎Desy mencatat, tingkat keterisian kamar di Hotel Halim melonjak tajam hingga mencapai 100 persen dibandingkan hari-hari biasa.
‎
‎”Seluruh 92 unit kamar kami terisi penuh, dengan estimasi dua orang di setiap kamarnya,” singkatnya.
‎
‎Fenomena membludaknya warga yang mengungsi ke hotel-hotel lokal tersebut menjadi bukti nyata betapa krisis kelistrikan interkoneksi Batam-Bintan tidak hanya berdampak pada sektor domestik rumah tangga, melainkan juga mengubah dinamika kebutuhan akomodasi darurat di Kota Tanjungpinang. (Ald)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *