PLN Siapkan 90 Titik PLTS Kepri, Swasta Incar Batam dan Karimun Ekspor Listrik ke Singapura

PLN Siapkan 90 Titik PLTS Kepri, Swasta Incar Batam dan Karimu  Ekspor Listrik ke Singapura.
PLN Siapkan 90 Titik PLTS Kepri, Swasta Incar Batam dan Karimu  Ekspor Listrik ke Singapura. Foto: Gotvnews/Ald.

GOTVNEWS, Tanjungpinang – Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Pemprov Kepri) terus mendorong percepatan transisi energi fosil ke energi baru terbarukan melalui pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
‎
‎Kepala ESDM Kepri, Darwin, mengatakan bahwa PT PLN (Persero) telah menyiapkan roadmap pengembangan PLTS di 90 titik kegiatan sepanjang periode 2026–2027 guna mengaliri pulau-pulau yang belum berlistrik.
‎
‎Berdasarkan data paparan roadmap PLTS Kepri, kapasitas terpasang PLTS hingga 2025 baru menyentuh angka 45 Megawatt peak (MWp), terdiri dari Ground Mounted 10 MWp, Rooftop 25 MWp, dan PLTS Terapung 10 MWp. Dengan potensi energi surya di wilayah Kepri mencapai 30 Gigawatt (GW).
‎
‎Guna mengejar ketimpangan tersebut, PLN memproyeksikan pembangunan PLTS Ground Mounted berkapasitas total 107 MW, meliputi 31 lokasi pada 2026 dengan kapasitas 3.164 KWp serta 23 lokasi pada 2027 dengan kapasitas 1.807 KWp.
‎
‎”Saat ini juga sedang berjalan Pilot Project PLTS KDKMP Pulau Sembur berkapasitas 0,9 MW dengan progres fisik mencapai 72,53 persen, lengkap dengan BESS 1 MWh, Cold Storage 5 Ton, serta Ice Maker 4 Ton per hari,” ujar Darwin, Jumat (30/10/2026).
‎
‎Selain proyek elektrifikasi desa pulau dari PLN, pihak swasta turut gencar melirik Kepri untuk membangun proyek PLTS skala besar guna merespons tingginya permintaan impor energi hijau dari Singapura.
‎
‎Darwin menjelaskan, investor swasta mengincar beberapa pulau strategis di kawasan Batam dan Kabupaten Karimun, seperti Pulau Rempang di Galang, Pulau Bulan, serta Pulau Sugi.
‎
‎”Batam dan Karimun menjadi lokasi paling ideal karena faktor jarak geografis yang relatif dekat, dari data kami, ada sekitar 20 titik PLTS yang sedang diurus izinnya di wilayah Batam dan Karimun,” jelasnya.
‎
‎Sementara itu, untuk daerah seperti Tanjungpinang, Lingga, dan Natuna, ekspor daya ke Singapura dinilai kurang efisien secara ekonomi karena tingginya biaya transmisi jarak jauh.
‎
‎Adapun untuk Kabupaten Bintan, ada potensi pengembangan, termasuk rencana dari pihak di kawasan Lagoi.
‎
‎”Itu belum bisa kita pastikan rencananya,” pungkasnya. (Ald)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *