Batik Karimun Menjanjikan, Tapi Terhambat Pasokan Bahan Baku

Batik Karimun Menjanjikan, Tapi Terhambat Pasokan Bahan Baku.
Batik Karimun Menjanjikan, Tapi Terhambat Pasokan Bahan Baku.Foto: Gotvnews/yh.

GOTVNEWS, KARIMUN – Upaya mengangkat batik sebagai identitas daerah terus digencarkan para pengrajin di Kabupaten Karimun. Salah satunya melalui Rumah Batik Larisna yang aktif mengembangkan motif khas daerah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif.

Owner Rumah Batik Larisna, Darinah, mengatakan nama Larisna diambil dari bahasa Melayu yang berarti sangat laris. Nama tersebut menjadi doa dan harapan agar usaha yang dirintis dapat berkembang dan dikenal luas oleh masyarakat.

“Nama Larisna itu dari bahasa Melayu yang artinya sangat laris. Ini menjadi harapan kami agar batik Karimun bisa dikenal dan diminati banyak orang,” ujar Darinah.

Ia menjelaskan, perjalanan batik Karimun bermula dari workshop yang difasilitasi Dinas Koperasi dan diikuti sekitar 50 peserta. Dari jumlah tersebut, 10 orang kemudian melanjutkan pelatihan ke Bantul, Yogyakarta, untuk memperdalam teknik membatik.

Saat ini, pengembangan batik di Karimun tergabung dalam beberapa rumah produksi, di antaranya Tuah Batik, Lazafa Batik, Molekna Batik, dan Larisna Batik.

Terdapat delapan motif batik utama seperti Jong Sri Gelam, Daun Sukun, Tampuk, Sirih Raja, Udang Galah Beriring, Poko Sagu Berayun, Ikan Kurau, serta Tampuk Manggis Bunga Melur.

Tak hanya itu, unsur kearifan lokal juga dituangkan dalam motif yang terinspirasi dari ikon daerah seperti Peta Karimun, Tugu MTQ, Bas Kayu, Jembatan Sanur, hingga Pilar Karimun.

Menurut Darina, pengembangan batik ini memiliki tujuan besar, tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

“Batik ini kami kembangkan untuk melestarikan budaya Melayu, sekaligus mengangkat ekonomi masyarakat. Pasarnya juga masih terbuka karena belum banyak saingan, sehingga bisa menciptakan lapangan pekerjaan,” jelasnya.

Meski memiliki potensi besar, pengrajin batik di Karimun masih menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait bahan baku yang belum tersedia di daerah.

“Tantangan kami, bahan-bahan batik belum ada di Karimun, jadi harus didatangkan dari luar. Itu yang membuat biaya produksi jadi lebih mahal,” ungkap Darinah.

Untuk menjangkau berbagai segmen pasar, Rumah Batik Larisna menghadirkan produk dengan variasi harga dan teknik.

Batik cap kontemporer menjadi pilihan yang lebih terjangkau dengan waktu produksi sekitar satu minggu, sementara batik tulis membutuhkan waktu lebih lama, yakni sekitar setengah bulan.

“Semua tergantung cuaca juga, karena proses pengeringan sangat berpengaruh,” tambahnya.

Dengan inovasi motif dan semangat pelestarian budaya, Rumah Batik Larisna optimistis batik Karimun dapat berkembang menjadi produk unggulan daerah yang mampu bersaing di pasar yang lebih luas. (yh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *