GOTVNEWS, Karimun – Manajemen Unit Pelaksana (UP) PLTU Tanjungbalai Karimun mengungkap alasan di balik penundaan pemeliharaan rutin Unit II pembangkit listrik.
Langkah tersebut diambil untuk menjaga pasokan listrik tetap tersedia bagi masyarakat di tengah kondisi cadangan daya yang masih terbatas.
Manager UP PLTU Tanjungbalai Karimun, Riki Aditiyawarman, mengatakan saat ini Unit I dan Unit II PLTU masih beroperasi normal dengan daya mampu sekitar 5,7 megawatt (MW) pada masing-masing unit.
“Unit II sebenarnya sudah memasuki jadwal pemeliharaan rutin sejak 10 Juli 2026. Namun berdasarkan hasil rapat bersama manajemen jaringan, kondisi daya kita masih terbatas sehingga pemeliharaan terpaksa ditunda,” kata Riki.
Ia menjelaskan, keputusan tersebut diambil agar pasokan listrik kepada masyarakat tetap terjaga. Namun, pengoperasian mesin yang telah melewati jadwal pemeliharaan memiliki risiko teknis yang tidak bisa diabaikan.
“Secara operasional saat ini masih aman di beban 5,7 MW. Tetapi tentu ada risiko kegagalan peralatan karena pemeliharaan belum dilakukan. Rencananya pemeliharaan akan dilaksanakan sekitar 20 hingga 22 Agustus 2026,” ujarnya.
Riki juga menjelaskan penyebab gangguan kelistrikan yang sempat menyebabkan blackout di Kabupaten Karimun beberapa waktu lalu.
Menurutnya, insiden tersebut bukan semata-mata disebabkan oleh kerusakan mesin pembangkit, tetapi merupakan kombinasi antara gangguan teknis pada pembangkit dan sistem distribusi listrik.
“Pemeliharaan di PLTU terdiri dari major overhaul, serious overhaul, dan pemeliharaan tidak terencana. Kejadian kemarin masuk kategori pemeliharaan tidak terencana akibat adanya gangguan pada boiler setelah jadwal perawatan tertunda,” jelasnya.
Saat gangguan terjadi, tim teknis langsung melakukan perbaikan pada komponen boiler yang mengalami kerusakan agar pembangkit dapat segera kembali beroperasi.
Namun, perbaikan yang dilakukan saat itu masih bersifat sementara karena fokus utama adalah mengembalikan pasokan listrik kepada masyarakat secepat mungkin.
“Sementara untuk blackout yang terjadi, kendala utamanya berada pada sistem pembagi atau distribusi. Dari sisi pembangkit sebenarnya daya masih tersedia, tetapi listrik tidak dapat disalurkan ke pelanggan karena ada gangguan pada sistem distribusi,” katanya.
Riki menambahkan, secara ideal setiap unit mesin PLTU harus menjalani pemeliharaan berkala setiap 6.000 jam operasi.
Dengan dua unit pembangkit yang dimiliki, dalam satu tahun terdapat empat kali jadwal pemeliharaan, masing-masing dua kali untuk setiap unit.
Khusus Unit II, saat ini sudah memasuki tahap major overhaul atau pemeliharaan besar. Pada tahap tersebut seluruh komponen mesin akan diperiksa secara menyeluruh dan diganti apabila ditemukan kerusakan.
“Seluruh material dan suku cadang untuk pemeliharaan besar Unit II sudah siap 100 persen di lokasi. Kami tinggal menunggu jadwal dari manajemen jaringan agar pekerjaan bisa segera dilaksanakan,” tutupnya. (yh)
Ikuti Berita gotvnews.co.id di Google News











