GOTVNEWS, Tanjungpinang – Cakupan layanan air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Kepri, di wilayah Tanjungpinang dan Bintan hingga 2026 masih sangat rendah, hal tersebut juga bersamaan dengan kondisi daftar tunggu yang menumpuk.
Berdasarkan audit terbaru dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), layanan air bersih baru menjangkau sekitar 33 persen dari total populasi.
Direktur Utama PDAM Tirta Kepri, Abdul Kholik, mengungkapkan bahwa geografis Tanjungpinang menjadi tantangan utama, dengan kondisi kota yang minim akan sumber air tawar alami seperti sungai besar, sehingga sangat bergantung pada waduk yang kapasitasnya terbatas.
“Tantangan kita adalah keterbatasan sumber air tawar, Waduk Sei Pulai dan Waduk Kawal kapasitasnya terbatas, sehingga seringkali tidak mencukupi kebutuhan seluruh penduduk yang terus tumbuh,” ujarnya, Jum’at (23/1/2026).
Kondisi ini memaksa mayoritas penduduk masih bergantung sepenuhnya pada sumur galian atau membeli air tangki untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Sebagian besar penduduk kita bergantung pada air sumur atau membeli air langsung,” jelasnya.
Selain faktor alam, kendala teknis berupa infrastruktur pipa yang sudah tua juga menghambat distribusi, masalah ini menyebabkan aliran air ke rumah pelanggan tidak maksimal dan perluasan jaringan menjadi terhambat.
Saat ini, tercatat ada sekitar 4.000 calon pelanggan di wilayah Tanjungpinang yang masih masuk dalam daftar tunggu (waiting list) PDAM Tirta Kepri, diaman mereka belum bisa terlayani karena keterbatasan jaringan pipa dan debit air.
“Masih ada sekitar 4.000 calon pelanggan atau yang amsuk daftar tunggu yang masih mengantri,” sambungnya.
Pihak PDAM Tirta Kepri berharap adanya dukungan anggaran dari APBD Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau untuk melakukan peremajaan pipa agar jangkauan layanan dan intensitas debit air dapat di tingkatkan.
“Kami sangat mengharapkan dukungan APBD Kepri untuk penggantian jaringan pipa yang sudah lama,” ujarnya. (Ald)
Ikuti Berita gotvnews.co.id di Google News














