GOTVNEWS, Jakarta – Talenta-talenta asal Papua kembali menjadi bagian penting dalam perjalanan Timnas Indonesia U-17. Pada ajang Garuda Championship Series 2026 menghadapi Malaysia, kontribusi pemain jebolan Papua Football Academy (PFA) kembali terlihat melalui penampilan Melki Yatipai, Stenly Meyanu, dan Dolvinus Solossa.
Sementara satu nama lainnya, Yance Glen Imbiri, harus absen karena masih menjalani pemulihan akibat sakit.
Kehadiran empat pemain tersebut menjadi gambaran bahwa pembinaan sepak bola usia muda di Tanah Papua terus melahirkan generasi berkualitas yang mampu bersaing di level nasional. Dari satu angkatan ke angkatan berikutnya, talenta Papua tetap menjadi bagian dari wajah sepak bola Indonesia.
Pada dua laga Garuda Championship Series melawan Malaysia, tiga pemain PFA mendapat kepercayaan besar dari kepala pelatih David Nascimeno. Melki Yatipai tampil paling konsisten dengan mencatatkan menit bermain terbanyak.
Gelandang bertahan tersebut bermain selama 87 menit pada pertandingan pertama dan kembali dipercaya selama 83 menit pada laga kedua, menunjukkan perannya yang begitu vital di lini tengah Garuda Muda.
Stenly Meyanu juga menjadi pilihan utama pada pertandingan pembuka dengan bermain selama 60 menit. Pada laga kedua, ia kembali diturunkan dan bermain selama 19 menit sebagai pemain pengganti di babak kedua.
Sementara itu, Dolvinus Solossa mencatatkan 60 menit pada pertandingan pertama sebelum kembali tampil selama 40 menit di babak kedua pada laga kedua.
Kepercayaan yang diberikan kepada ketiga pemain tersebut bukan tanpa alasan. Pada laga pertama melawan Malaysia, Melki tampil sebagai jangkar lini tengah yang mampu menjaga keseimbangan permainan Indonesia.
Ia tak hanya memutus serangan lawan, tetapi juga menjadi poros dalam proses build-up dari lini belakang. Ketenangannya saat berada di bawah tekanan membuat aliran bola Indonesia tetap terjaga sepanjang pertandingan.
Di samping Melki, Stenly Meyanu menjalankan peran sebagai penghubung antarlini. Akurasi umpannya membantu Garuda Muda menguasai jalannya pertandingan, sementara visi bermainnya beberapa kali membuka ruang bagi lini depan tim.
Sementara itu, Dolvinus Solossa menjadi ancaman dari sisi kiri penyerangan. Kecepatan, kemampuan menggiring bola, serta keberaniannya dalam duel satu lawan satu beberapa kali merepotkan lini belakang Malaysia.
Dua percobaan tembakan keras dari luar kotak penalti juga memaksa penjaga gawang lawan bekerja ekstra untuk menjaga gawangnya tetap aman.
Secara keseluruhan, kontribusi ketiga pemain PFA menjadi bagian dari permainan dominan Indonesia sepanjang laga.
Meski pertandingan pertama berakhir imbang 1-1, penampilan Garuda Muda mendapat apresiasi dari pelatih David Nascimento yang menilai anak asuhnya mampu mengendalikan permainan meski baru menjalani masa persiapan sekitar satu bulan.
Kepercayaan tersebut berlanjut pada pertandingan kedua. Melki kembali menjadi pilihan utama sejak awal pertandingan, sementara Stenly dan Dolvinus tetap mendapat kesempatan bermain sebagai bagian dari rotasi yang dilakukan tim pelatih.
Total menit bermain yang mereka kumpulkan sepanjang dua pertandingan menjadi bukti bahwa para pemain jebolan PFA memiliki kualitas untuk bersaing di level tertinggi kelompok usia mereka.
Di balik hadirnya nama-nama tersebut, terdapat proses pembinaan yang telah berlangsung secara konsisten selama beberapa tahun terakhir. Khususnya, Papua Football Academy bersama PSSI yang terus menjalin kolaborasi dalam mengembangkan sepak bola usia dini di Papua.
Program ini mendapat dukungan dari PT Freeport Indonesia serta ada momen melibatkan bersama federasi sepak bola Belanda (KNVB), sehingga para pemain memperoleh pembinaan yang terstruktur mulai dari aspek teknik, taktik, fisik, hingga pembentukan karakter. (*)
Ikuti Berita gotvnews.co.id di Google News














