Hukum  

Usai Viral Kasus Dugaan Eks Pimpinan Ponpes Tanjungpinang Cabuli Santri Laki-Laki, Puluhan Santri Pilih Mengundurkan Diri‎

Usai Viral Kasus Dugaan Eks Pimpinan Ponpes Tanjungpinang Cabuli Santri Laki-Laki, Puluhan Santri Pilih Mengundurkan Diri‎.
Usai Viral Kasus Dugaan Eks Pimpinan Ponpes Tanjungpinang Cabuli Santri Laki-Laki, Puluhan Santri Pilih Mengundurkan Diri‎. Foto: Ilustrasi Freepik.

‎GOTVNEWS, Tanjungpinang – Kasus dugaan pencabulan sesama jenis yang melibatkan santri di salah satu pondok pesantren (ponpes) di Tanjungpinang berujung pada tindakan tegas.

‎Oknum yang merupakan pimpinan ponpes berinisial E resmi diberhentikan dari jabatannya sejak Rabu (16/9/2026) usai tindakan tidak senonoh yang dilakukan direspons oleh badan pengawas dan pihak yayasan.

‎Salah seorang pengurus ponpes yang enggan disebutkan namanya, mengonfirmasi bahwa kendali kepemimpinan kini telah diserahkan kepada pimpinan baru.

‎Selain penataan manajemen, struktur tata kelola lembaga juga dialihkan di bawah naungan Yayasan Baitul Hikmah Kepri dari yang sebelumnya berada di bawah Yayasan Kepri Cahaya Ilmu.

‎”Baik yayasan maupun pimpinan sekarang sudah berlalih, untuk yang bersangkutan sudah tidak disini lagi,” ucapnya saat dijumpai langsung, Jum’at (18/9/2026).

‎Dirinya menerangkan, dugaan pencabulan tersebut terungkap setelah seorang santri memberanikan diri melapor ke pihak pesantren.

‎Dengan diketahui menggunakan modus meminta para korban untuk memijat di beberapa lokasi seperti rumah pribadi maupun ruangan yang ada di lingkungan pondok.

‎”Memang ada beberapa santri yang kita tahu sering disuruhnya memijat, katanya modusnya dari situ,” jelasnya.

‎Viralnya kasus tersebut kini berdampak signifikan terhadap operasional pesantren yang telah berdiri selama enam tahun tersebut, Jumlah santri merosot dari semula 52 orang menjadi tersisa sekitar 30 orang.

‎Sementara itu sebanyak tujuh santri yang diduga menjadi korban telah mengajukan pemindahan ke sekolah lain, disusul sejumlah orang tua murid lain yang turut meminta rekomendasi pindah.

‎Meski diterpa krisis kepercayaan, pengurus memastikan aktivitas belajar mengajar di lingkungan pesantren tetap berjalan dengan pengawasan ketat.

‎”Pondok tidak ditutup, kegiatan belajar tetap berjalan normal, saat ini fokus kami adalah merampungkan proses pengalihan yayasan dan pimpinan sembari melakukan evaluasi ketat agar kejadian serupa tidak terulang,” tegasnya. (Ald)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *