GOTVNEWS, Karimun – Dinas Kesehatan Kabupaten Karimun mencatat sebanyak 463 kasus DBD dengan dua pasien dilaporkan meninggal dunia, sepanjang Januari hingga akhir tahun 2025.
Data Dinkes menunjukkan, Kecamatan Meral menjadi wilayah dengan kasus tertinggi, yakni 122 kasus. Disusul Kecamatan Tebing sebanyak 96 kasus, dan Kecamatan Karimun di posisi ketiga dengan 83 kasus.
Lonjakan paling signifikan terjadi pada Mei 2025. Dalam kurun satu bulan, tercatat 85 kasus dengan angka penularan tertinggi sepanjang tahun.
Tren kasus DBD di Karimun terbilang fluktuatif. Pada 2019 tercatat 232 kasus dengan empat kematian. Angka itu melonjak pada 2020 menjadi 445 kasus dengan satu kematian.
Tahun 2021 menjadi salah satu periode tertinggi, yakni 536 kasus dan tujuh kematian. Bahkan pada 2022, jumlahnya meningkat tajam menjadi 760 kasus dengan empat kematian.
Kemudian, tahun 2023 dengan hanya 86 kasus tanpa kematian. Namun pada 2024 kembali naik menjadi 248 kasus dan tidak ada laporan korban jiwa.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Karimun, Soerjadi, mengatakan lonjakan kasus pada bulan-bulan tertentu sangat dipengaruhi faktor cuaca dan kondisi lingkungan.
“Kasus DBD cenderung meningkat saat musim hujan karena banyaknya genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti. Kami terus mengintensifkan upaya pencegahan melalui fogging fokus, penyelidikan epidemiologi, serta menggalakkan gerakan pemberantasan sarang nyamuk,” ujar Soerjadi.
Ia menegaskan, pengendalian DBD tidak bisa hanya mengandalkan intervensi pemerintah. Partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci utama.
Dinkes mengimbau warga konsisten menerapkan langkah 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, serta memanfaatkan atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air.
“Peran masyarakat sangat penting. Tanpa keterlibatan aktif warga dalam menjaga kebersihan lingkungan, upaya pengendalian DBD tidak akan maksimal,” tutupnya. (yh)
Ikuti Berita gotvnews.co.id di Google News














