GOTVNEWS, Tanjungpinang – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Raja Haji Fisabilillah (RHF) Tanjungpinang, mengingatkan masyarakat pesisir untuk mewaspadai potensi banjir rob yang diperkirakan terjadi sejak 6 hingga 12 November 2025.
Kepala Stasiun Meteorologi RHF Tanjungpinang, Ahmad Kosasih, menjelaskan bahwa peringatan ini mencakup wilayah Pulau Bintan, meliputi Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan.
“Kami sudah sampaikan potensi banjir rob sejak awal November. Masyarakat di daerah pesisir diminta lebih waspada,” ucap Kosasih saat dikonfirmasi, Selasa (11/11/2025).
Menurutnya, terdapat tiga kecamatan rawan terdampak banjir rob di Tanjungpinang, yakni Tanjungpinang Timur, Tanjungpinang Kota, dan Bukit Bestari.
Puncak ketinggian air pasang diperkirakan mencapai 0,62 meter pada 11 November 2025 pukul 07.00 WIB, dan akan mulai surut sekitar pukul 15.00 WIB.
“Biasanya wilayah langganan rob itu di pesisir ketiga kecamatan tersebut,” jelasnya.
Kosasih menuturkan, potensi banjir rob tahun ini disebabkan oleh fenomena bulan purnama dan jarak bumi dengan bulan yang sedang berada di titik terdekat (perigee). Kondisi ini meningkatkan gaya tarik gravitasi bulan terhadap air laut.
“Fenomena ini rutin terjadi setiap tahun, dan masyarakat pesisir sudah mulai beradaptasi,” jelasnya.
Meski demikian, hingga kini belum ada laporan warga yang harus mengungsi akibat genangan air. Aktivitas masyarakat hanya sedikit terganggu, terutama di area permukiman rendah atau akses jalan yang tergenang.
“Aktivitas memang agak terganggu, tapi sejauh ini masih terkendali,” sambungnya.
Dari sisi cuaca, BMKG mencatat curah hujan di wilayah Tanjungpinang dan Bintan sedang berada di puncaknya pada November ini. Dalam tiga hari ke depan, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang berpotensi terjadi pada pagi hingga siang hari.
“Hari ini hampir seluruh wilayah Tanjungpinang diguyur hujan, kecuali daerah Gunung Kijang,” tuturnya.
Sementara itu, kondisi gelombang laut masih relatif aman dengan ketinggian antara 0,5 hingga 1 meter, namun arus laut terpantau cukup kuat, mencapai 30 hingga 150 cm per detik.
“Nelayan dengan perahu kecil sebaiknya lebih berhati-hati, terutama saat arus sedang kencang,” tutupnya. (Ald)















