GOTVNEWS, Karimun – Kelangkaan tabung gas elpiji tiga kilogram di Tanjungbatu, Kundur membuat warga sekitar mengeluh dan resah. Sejumlah pangkalan kosong selama beberapa hari, sementara kebutuhan gas rumah tangga terus meningkat.
Warga mengaku harus berkeliling dari satu pangkalan ke pangkalan lain untuk mendapatkan gas melon tersebut. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan berlarut-larutnya krisis gas.
Pemerintah daerah bersama Pertamina kini tengah mencari solusi agar distribusi kembali normal dan warga tidak lagi kesulitan mendapatkan elpiji 3 kg dalam waktu dekat.
Kepala Bidang ESDM, Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perdagangan dan ESDM Karimun, Vandarones Purba, menyebut akar masalah bukan pada stok gas, melainkan keterbatasan tabung yang layak edar.
Menurutnya, saat ini ada sekitar 30.000 tabung gas rusak yang tidak bisa digunakan, sehingga menghambat perputaran distribusi di tingkat agen dan pangkalan.
“Masalah kita sekarang bukan gasnya, tapi tabungnya. Ada sekitar 30 ribu tabung yang rusak sehingga sirkulasinya terganggu. Agen harus menarik tabung kosong dulu ke SPBE untuk diisi, proses ini memakan waktu terutama untuk wilayah kepulauan,” ujar Vandarones.
Vandarones menjelaskan akibatnya distribusi gas tiga kilogram di Kundur sempat terhambat. Dengan asumsi satu tabung diisi empat kali sebulan, kerusakan tersebut berpotensi menghilangkan sekitar 120.000 siklus pengisian, sementara kebutuhan Karimun mencapai 215.000 tabung per bulan.
Untuk mengatasi persoalan ini, Pemkab Karimun telah berkoordinasi dengan Pertamina wilayah Medan. Hasilnya, 10.000 tabung baru dijadwalkan masuk ke Karimun pada Februari atau paling lambat Maret 2026.
“Kalau 10 ribu tabung baru ini sudah masuk, sirkulasi akan jauh lebih baik. Kami juga sudah mengajukan tambahan kuota harian, terutama untuk wilayah kepulauan yang paling terdampak,” katanya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak menimbun tabung di rumah karena justru memperparah kelangkaan di pangkalan.
“Begitu ada isu langka, warga cenderung menyimpan tabung cadangan. Ini membuat pasokan di pangkalan makin tipis bagi warga lain yang benar-benar membutuhkan,” ujarnya.
Untuk solusi jangka panjang, Pemkab Karimun mendorong pembangunan Bengkel Perbaikan Tabung (BPT) di daerah tersebut. Selama ini, tabung rusak harus dikirim ke luar daerah untuk diperbaiki.
“Kami sudah mengusulkan ke Pertamina agar Karimun punya BPT sendiri, tapi prosesnya butuh waktu karena menyangkut regulasi dan investasi,” tutupnya. (yh)
Ikuti Berita gotvnews.co.id di Google News














