Malam 7 Likur, Tradisi Lampu Pelita Meriahkan Ramadhan di Dabo Singkep

GOTVNEWS, Lingga – Malam ke-27 Ramadhan 1446 H di Dabo Singkep, pada Kamis, 26 Maret 2025, semakin meriah dengan perayaan Malam 7 Likur. Sebuah tradisi turun-temurun masyarakat Melayu yang menghadirkan keindahan cahaya dari lampu pelita.

Setiap tahunnya, kampung-kampung di Dabo Singkep, kabupaten Lingga, berubah menjadi lautan cahaya dengan pintu gerbang megah yang dibuat dari ribuan pelita. Tradisi ini bukan sekadar hiasan, tetapi juga simbol kebersamaan dan pelestarian budaya.

Malam 7 Likur diperingati setiap malam ke-27 Ramadhan, karena pada minggu terakhir di bulan Ramadhan dipercayai sebagai malam Lailatul Qadar, malam yang istimewa bagi umat Islam. Dalam tradisi ini, warga berbondong-bondong menyalakan lampu pelita di sepanjang jalan dan di sekitar rumah.

Salah satu daya tarik utama dari perayaan ini adalah lomba pintu gerbang pelita, yang menampilkan kreativitas warga dari berbagai kampung. Tahun ini, kompetisi diikuti sebanyak 18 peserta dari Kecamatan Singkep.

Boy Andhika, salah satu juri lomba, menegaskan bahwa acara ini bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi merupakan bagian dari upaya melestarikan budaya turun-temurun.

โ€œKalau untuk event ini, event 7 liko ini memang setiap tahun itu dilaksanakan. Jadi memang ini kegiatan tahunan yang terus menerus dilaksanakan dan dilestarikan,โ€ ujar Boy.

Di antara para peserta, Kampung Sekop Darat menampilkan konsep unik dengan pintu gerbang berbentuk masjid tiga dimensi, yang dibuat menggunakan 10.000 pelita.

Ketua pemuda setempat, Okta, menjelaskan bahwa persiapan sudah dimulai sejak sebelum bulan puasa agar hasilnya lebih maksimal.

โ€œKonsep ni, bentuk masjid, tiga demensi, Alhamdulillah, kita buatkan dengan jauh hari kemarin sebelum bulan puasa, alhamdulillah bersama pemuda-pemuda, dengan jumlah pelita sebanyak sepuluh ribu,โ€ kata Okta.

Selain memperindah kampung, tradisi ini juga berdampak pada ekonomi warga setempat. Permintaan minyak pelita yang meningkat dapat membantu usaha kios-kios kecil yang menjual minyak tanah.

Tak hanya itu, halal bihalal antar warga juga turut menjadi bagian dari perayaan ini, sebagai ajang mempererat tali silaturahmi, berkumpul sambil menikmati hidangan khas Ramadhan bersama.

Bagi perantau, tradisi ini menjadi alasan untuk kembali ke kampung halaman. Linda, warga Kampung Baru, mengaku bahwa setiap tahun, Malam 7 Likur selalu menjadi momen spesial yang membuatnya bangga dengan kampungnya.

โ€œKalau di kampung ya memang seperti ini, tetap dilakukan terus tiap tahun kan. Mana yang pergi merantau tu kan, Nih lah, kesempatam dia untuk balek untuk tengok keramain di sini lah, di malam 7 liko ini,โ€ ujarnya.

Malam 7 Likur bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga pengikat kebersamaan yang memperkuat identitas budaya Melayu di Dabo Singkep.(frh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *