GOTVNEWS, Tanjungpinang – Sekolah Rakyat Tanjungpinang dipastikan mulai beroperasi pada 30 September 2025 mendatang. Menariknya, tidak hanya siswa yang akan diasramakan, tetapi juga para guru dan tenaga pendidik.
Dimana konsep ini diyakini mampu menciptakan kedekatan emosional serta suasana belajar yang lebih menyatu antara murid dan pengajar.
Kepala Sekolah Rakyat Tanjungpinang, Reni Putri Ramadhani, menjelaskan saat ini sekolah memiliki 19 tenaga pendidik. Dari jumlah tersebut, 4 orang berasal dari Tanjungpinang, sementara 15 orang lainnya datang dari luar daerah, termasuk dari luar Provinsi Kepri.
“Iya, nantinya guru juga di-asramakan. Namun untuk sementara waktu karena ruangan masih terbatas, prioritas diberikan kepada guru dari luar kota. Sementara kami yang empat orang dari Tanjungpinang masih bisa pulang pergi,” ucapnya.
Reni menuturkan, untuk sementara ini pengaturan asrama juga akan menyesuaikan kondisi pribadi masing-masing guru. Guru yang sudah berkeluarga dan berencana membawa anak serta pasangan ke Tanjungpinang, disarankan mencari kontrakan di luar sekolah agar lebih nyaman.
“Kalau ada guru yang sudah menikah dan membawa keluarga, tentu asrama tidak akan mencukupi. Jadi lebih baik mereka menyewa rumah kontrakan,” sambungnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa di masa mendatang, seluruh tenaga pendidik tetap akan tinggal di asrama. Hal ini baru bisa terlaksana ketika sekolah berpindah lokasi ke kawasan Madong nanti.
“Kalau nanti sekolah Rakyat sudah pindah ke Madong, semua guru akan di asramakan, baik yang dari Tanjungpinang maupun dari luar daerah,” jelasnya.
Dengan konsep ini, Sekolah Rakyat Tanjungpinang berkomitmen membangun ekosistem pendidikan yang lebih terintegrasi, di mana guru bukan hanya hadir di ruang kelas, tetapi juga menjadi pembimbing sehari-hari bagi siswa di lingkungan asrama. (Ald)















